Teaching Factory - TEFA

Tentang Model Pembelajaran TEFA

Pendahuluan

Model Pembelajaran Teaching Factory (TEFA) adalah Model Pembelajaran yang memanfaatkan sarana prasarana yang dimiliki Sekolah dalam menciptakan suasana industri di sekolah untuk mencapai kompetensi satu atau beberapa mata pelajaran produktif. Siswa diberi pengalaman langsung suasana kerja industri meskipun di sekolah dengan dihadapkan pada pekerjaan nyata sesuai kompetensi yang harus dimiliki dari satu atau beberapa mata pelajaran produktif baik yang bersifat produk maupun jasa. Sehingga kompetensi yang dicapai sesuai dengan yang seharusnya dan tidak terjadi kesenjangan kemampuan/ kompetensi antara kebutuhan/tuntutan industri dengan kemampuan /kompetensi yang dikembangkan di sekolah

Keunggulan

Hasil penelitian pada uji validasi (2010) menyatakan bahwa Model TF-6M efektif meningkatkan kompetensi siswa dalam Mata pelajaran Produktif pada Kompetensi Keahlian (Peminatan) Pemesinan dengan temuan-temuan Model TF-6M menunjukan:
a. Lebih disukai oleh siswa dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional.
b. Dapat meningkatkan lama siswa bekerja di bengkel/laboratorium (di tempat kerja).
c. Dapat meningkatkan kemampuan softskill siswa.
d. Dapat meningkatkan kemampuan hardskill siswa.
e. Dapat meningkatkan motivasi berprestasi, rasa tanggungjawab dan etos kerja siswa.

Dari keunggulan Model TF-6M tersebut dapat dikemukakan beberapa asumsi bahwa:
1) Pendidikan di SMK harus dilaksanakan secara holistik agar seluruh aspek potensi siswa dapat terkembangkan;
2) Siswa harus dilatih mengkonstruksi pengetahuannya agar sekaligus dapat mengkonstruksi berpikir;
3) Pendidikan di SMK bukan semata-mata menitikberatkan pada kecakapan vokasional tetapi juga meliputi kecakapan akademik, kecakapan personal, dan kecakapan sosial;
4) Belajar kontekstual merupakan pendekatan pembelajaran yang tepat dilakukan pada proses pembelajaran di SMK;
5) Belajar kontekstual di SMK dapat dilakukan melalui Learning By Doing dengan Real Job;
6) Suasana atau iklim industri tidak hanya bisa didapatkan di industri, tetapi iklim industri dapat diciptakan di sekolah;
7) Iklim industri di sekolah dapat diciptakan dengan cara memanfaatkan site plan workshop sebagai site plan industri, hubungan guru-siswa diubah dari guru sebagai sumber belajar menjadi hubungan guru yang berperan sebagai konsultan/asesor dengan siswa yang memerankan sebagai pekerja industri;
8) Dalam hubungan guru-siswa seperti di atas, penilaian hasil belajar tidak lagi dengan pendekatan PAN, tetapi pendekatan PAP dengan go no go, karena siswa dihadapkan pada tuntut an pasar.
Harapan tersebut memungkinkan dapat dicapai karena Model TF-6M memberi pengalaman langsung suasana industri di sekolah dalam blok waktu, dan model tersebut dapat dilaksanakan dengan baik dan efektif meningkatkan kompetensi siswa dalam mata pelajaran produktif (Peminatan).

Kesimpulannya, model pembelajaran TEFA berusaha untuk mengubah model pembelajaran konvensional di kelas menjadi lebih interaktif lagi dan sesuai dengan kebutuhan Industri, karena peserta didik akan berinteraksi secara langsung dengan dunia kerja dengan cara menghasilkan dan mengelola produk/jasa sesuai Kompetensi Keahliannya masing-masing. Klik tombol dibawah untuk melihat produk dan jasa yang tersedia di SMK Taruna Harapan 1 Cipatat